wisata malang
Paket Wisata Malang & Tour Bromo
 0853 199 66777
 0878 199 66777
 cs.eksotika@gmail.com
 eksotikaindonesia.com

Home Profil Paket Wisata Gallery Foto Client

MENGENAL WARISAN JAMAN BATU, DESA BENA BAJAWA

Indonesia dikenal sebagai negara keberagaman yang selalu dikagumi oleh masyarakat dibelahan dunia. Negara maritim yang menyuguhkan pesona alam dan indahnya laut menakjubkan. Jutaan budaya, bahasa, suku hingga tradisi unik seolah jadi taburan manis dari persatuan tanah air tercinta. Bahkan, tak akan habis untuk mengucap rasa syukur atas berkah Tuhan di tanah Indonesia. Kita mau bahas tentang Desa Bena yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Timur.

Semua berawal dari sebuah permulaan. Ada sejarah di zaman batu sebelum menapak di jaman modernisasi seperti sekarang. Cara tradisional bahkan terganti dengan bantuan mesin-mesin canggih dan serba instan. Beberapa diantaranya justru terserang malas.

Bukan Indonesia jika tidak memiliki banyak cerita. Ribuan pulau kecil dengan penduduk khasnya menjadi hal unik yang mampu mengundang rasa penasaran dari banyak wisatawan dunia. Artikel ini akan membahas mengenai warisan nenek moyang di sebuah daerah. Tentang Desa Bena Bejawa serta warisan zaman batu yang masih terjaga keeksotisan dan tradisionalnya.

Desa Bena, Desa Pemuja Gunung

Kampung Bena merupakan sebuah perkampungan megalithikum yang terletak di Desa Tiwuriwu, Kec. Aimere, Kab. Ngada, Flores, NTT. Berada di puncak bukit dengan landscape Gunung Inerie yang tampak asri dan eksotis. Gunung Inerie [2.245 mdpl] sendiri merupakan gunung berapi tertinggi dan terbesar di Pulau Flores. Disebelah barat Gunung Inerie dihiasi dengan hutan nan lebat. Di lereng selatannya, ada perkebunan hijau.

DESA BENA FLORES NTT

Keberadaan Desa Wejana di bawah gunung merupakan ciri khas masyarakat lama yang meyakini dan memuja gunung sebagai tempat para dewa. Masyarakat Bena pun meyakini bahwa keberadaan Dewa Yeta bersingsana di Gunung Inerie dan akan selalu melindungi kampung mereka. Menurut warga Bena, Gunung Inerie merupakan perwujudan hak mama dan Gunung Surulaki perwujudan hak bapa.

Akses menuju salah satu desa di Bajawa ini pun mudah. Sobat dapat mencapai lokasi dengan menggunakan kendaraan Sewa dari Bajawa. Jarak tempuh sekitar 19 km ke arah selatan Bajawa. Sedangkan dari Labuan Bajo, Bajawa bisa ditempuh sekitar 7 – 8 jam melalui transportasi darat.

Perjalanan menuju Kampung Bena juga tak akan membuatmu bosan. Banyak titik-titik indah panorama alam yang semakin memanjakan mata. Mintalah sopir untuk berhenti sejenak, mengambil potret lukisan Tuhan yang begitu mempesona.

Untuk berkunjung ke Desa Bena, wisatawan tidak dikenakan tiket masuk. Tetapi, wisatawan diharapkan untuk mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan sukarela. Dana tersebut dapat membantu usaha dalam pelestarian kampung.

Menengok Warisan Jaman Batu di Desa Bena Bajawa

Sejak dulu, warga desa adat Bena menganggap bahwa gunung, batu, dan hewan-hewan merupakan sesuatu yang harus dihormati. Karena mereka adalah bagian dari kehidupan. Baru menapakkan kaki di beranda kampung, tersaji pemandangan rumah adat beratap ijuk yang tampak berumpak-umpak dan tradisional. Kampung Bena memanjang dari utara sampai Selatan. Pintu masuk berada di utara.

Kamu akan dibuat takjub dengan banyak tanduk kerbau, rahang dan taring babi dipajang mengantung di setiap rumah. Seperti deretan souvenir antik yang tampak epic. Fungsinya sebagai lambang status sosial orang Bena. Bagian hewan tersebut berasal dari hewan-hewan yang disembelih saat upacara adat tiba.

Tak disangka, ada bagian surga Indonesia yang tersembunyi disana. Di tepi, tepatnua ujung tertinggi di Desa Bena menyajikan panorama alam yang sangat mengagumkan. Hampara jurang besar dengan rentetan gunung dan Laut Sawu disebelah kanan. Tempat terbaik untuk spot foto dengan pesona alam Indonesia di Pulau Flores.

Kehidupan Asri Bajawa

Desa adat Bena akan membuat kamu merasakan sensasi kehidupan di zaman batu bersama dengan keramahan para penduduknya. Lewat senyum yang terukir dari bibir merah karena mengunyah sirih pinang. Kemewahan dan kemegahan salah satu warisan budaya nusantara di Desa Bena memang sangat mengagumkan. Yuk simak bagaimana asrinya Desa Bena sekarang…

Rumah-rumah di Desa Bena

Desa Bena memiliki sekitar 45 rumah yang saling mengelilingi dan dihuni oleh 9 suku ; suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Ngada, suku Deru Lalulewa, suku Khopa, suku Deru Solamae dan suku Ago. Pembeda antara suku tersebut dapat dilihat dari tingkatan sebanyak  9 buah. Setiap satu suku terletak di satu tingkat ketinggian.

Rumah-rumah di Desa adat Bena punya bentuk yang unik. Bentuknya melingkar membentuk huruf U dan setiap rumahnya memiliki hiasan atap yang berbeda-beda. Sesuai dengan garis keturunan yang berkuasa dan satus sosial penghuni rumah tersebut.

Setiap rumah ditandai dengan ukiran dan diatapnya ada senjata untuk melindungi penghuninya dari roh-roh jahat. Miniatur tersebut juga memiliki makna sebagai motivasi hidup bagi anak-anak mereka. Juga sebagai pengingat bahwa kemanapun mereka pergi, Desa Bena adalah tempat pulang mereka.

Rumah Suku Bena sendiri berada di tengah-tengah, karena dianggap sebagai suku paling tua dan juga sebagai pendiri kampung.

Di kehidupan sehari-hari, warga desa adat Bena menggunakan bahasa Nga’dha untuk berkomunikasi. Mayoritas penduduk Kampung Bena beragam Khatolik. Namun, mereka tetap menjalankan kepercayaan leluhur termasuk adat dan tradisinya.

Negeri Sirih Pinang

Uniknya, mengunyah pinang juga menjadi kebiasaan sehari-hari warga desa adat Bena yang diwariskan dari nenek moyang. Pinang ini dibauat dari campuran daun sirih, kapur, gambir, pinang dan sedikit tembakau. Ramuan ini memberi rasa segar dengan hasil unik warna merah yang menempel di gigi. Mengunyah sirih pinang selalu dilakukan tanpa mengenal waktu, dari pagi, siang, sore bahkan malam.

Di tengah-tengah desa adat Bena terdapat sebuah bangunan bernama Nga’du dan Bhaga. Keduanya merupakan simbol leluhur kampung yang berada di halaman, kisanatapat, hingga tempat upacara adat digelar. Fungsinya untuk berkomunikasi dengan leluhur mereka.

Nga’du merupakan simbol nenek moyang laki-laki. Berdiri disetiap rumah adat Flores. Bentuknya seperti sebuah payung dengan bangunan bertiang tunggal terukir dan atapnya dari serat ijuk. Jika diperhatikan mirip seperti pondok peneduh. Tiang Nga’du dibuat dari jenis kayu khusus dan keras. Selain sebagai penyanga, tiang ini juga berfungsi sebagai tiang gantungan hewan kurban ketika pesta adat.

Sedangkan Bhaga merupakan simbol nenek moyang perempuan dan bentuknya seperti miniatur rumah adat. Fungsinya untuk menerima laki-laki yang menikahi wanita dari Desa adat  Bena.

Tenun Khas Bajawa

Umumnya warga di Desa Bena bermata pencaharian sebagai peladang di kebun-kebun hijau yang mengelilingi kampung. Selain itu, para perempuan di Desa Bena juga wajib memiliki keahlian dalam bidang menenun. Khususnya, menenun dengan motif Gajah dan Kuda sebagai ciri khas.

Karya tenun dengan media kain khas Flores tersebut nantinya akan dijual ke wisatawan dengan harga sekitar 300 ribuan. Jika masih terbilang mahal, sobat bisa membeli syal tenun khas Bena dengan harga sekitar 75 – 100 ribu rupiah. Desa Bena kini menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan mancanegara, terutama Italia dan Jerman.

Bagi sobat yang ingin merasakan kehidupan desa adat di jaman batu bersama dengan keramahan penduduk dan suasana alamnya, mampirlah sejenak ke Desa Bena. Desa warisan jaman batu dengan kehidupan dan asrinya alam eksotis di Indonesia.

Cek Eksotika Indonesia dan Paket Wisata Jogjakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© eksotika indonesia