wisata malang
Paket Wisata Malang & Tour Bromo
 0853 199 66777
 0878 199 66777
 cs.eksotika@gmail.com
 eksotikaindonesia.com

Home Profil Paket Wisata Gallery Foto Client

RAGAM JOGLO KHAS JAWA YANG KAYA MAKNA

Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang dikenal akan karakteristik budaya dan adat tradisional yang sangat unik. Rumah Joglo salah satunya. Rumah adat khas Jawa Tengah tersebut sudah sangat populer di kalangan masyarakat luas. Bangunan ini memang identik dengan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang.

Rumah adat Joglo merupakan rumah peninggalan adat kuno dengan karya seni dan arsitektur tinggi sebagai wujud dan kebudayaan daerah. Bahkan, bahan banggunannya berasal dari bahan-bahan tradisional berkualitas dan cukup mahal. Proses pembangunannya pun cukup rumit. Pada zaman dahulu, Rumah Joglo menjadi simbol status sosial dan hanya orang-orang tertentu saja. Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, Joglo juga menyimpan banyak filosofi tinggi.
Meskipun sudah banyak dikenal, kebanyakan orang belum mengetahui informasi hingga keunikan yang tersembunyi dari rumah tradisional ini. Padahal, informasi tersebut dapat menjadi ilmu baru untuk kita dalam melestarikan budaya dan adat tradisional di Indonesia. Nah, pada artikel kali ini, mimin akan sedikit bercerita mengenai rahasia dari Rumah Joglo ini. Kuy, simak ulasan berikut sampai selesai dan selamat membaca!


Sejarah Rumah Adat Joglo
Nama rumah adat Joglo berasal dari 2 kata yaitu “Tajug” dan “Loro” yang berarti menggabungkan dua talung. Kala itu, masyarakat Jawa memilih Tajug sebagai bentuk atap seperti piramid atau gunung. Konon, gunung dianggap sebagai tempat sakral oleh masyarakat karena menjadi tempat tinggal para dewa. Tak heran jika banyak menemukan jamuan pada kala itu.
Bentuk yang unik juga menjadi simbol dari berbagai makna kehidupan, sehingga banyak perhitungan yang perlu dilakukan sebelum membangun sebuah Joglo. Memperhatikan arah mata angin jadi salah satu hal penting yang diperhatikan. Masyarakat Jawa juga memperhatikan keselerasan hidup dengan kekuatan alam semesta. Harapannya rumah dapat menjadi tempat paling nyaman dan harmonis untuk kehidupan mereka.
Menelisik Keunikan Dari Rumah Adat Joglo
Setiap rumah adat pasti memiliki bentuk serta filosofi yang unik. Hal tersebut juga menjadi topik pembeda dengan jenis rumah tradisional lainnya. Begitupun rumah adat Joglo. Dibawah ini adalah keunikan dari bangunan khas Jawa Tengah tersebut, yaitu :
1. Arsitektur Tinggi Penuh Akan Filosofi
Tradisional memang selalu menarik. Seperti halnya rumah Joglo yang dirancang pada zaman dahulu sebelum benar-benar mengenal teknologi. Namun, tak membuat bangunan ini tampak monoton dan justru terlihat sangat menarik. Bahkan, rancanggannya pun mengutamakan tentang filosofi jawa yang harus terpenuhi. Juga, makna tersembunyi yang menggambarkan segala hal mengenai kehidupan dan aktivitas masyarakat Jawa.
2. Atap “Gunungan”
Rumah Joglo memiliki bentuk atas yang khas dan berasal dari 2 bidang, yaitu segitiga dan trapesium. Berdasar bentuk atapnya, ruma Joglo dibedakan menjadi Joglo Lambang Gantung dan Joglo Lambang Sari. Untuk Joglo Lambang Gantung atapnya terdapat celah untuk memudahkan sirkulasi udara dan pencahayaan rumah.
Sedangkan, Joglo Lambang Sari atapnya lebih tertutup. Bagian atap rumah Joglo yang besar menjadi simbol bahwa tradisi masyarakat Jawa selalu mengutamakan akal budi dan pikiran. Harapannya dapat menghadapi kehidupan dan mempersiapkan diri untuk kehidupan selanjutnya yang lebih baik lagi.
3. Uniknya Pager Mangkok
Pager dalam bahasa Indonesia berarti pagar. Biasanya pagar terbuat dari bambu atau kayu yang ada disekeliling rumah. Namun, pagar di rumah Joglo terbuat dari tanaman perdu dengan ketinggian kurang dari 1 meter. Pager mangkok ini memiliki makna bahwa rumah sebaiknya tidak dipagar supaya masyarakat dapat saling membaur ataupun bertegur sapa.
4. Pintu Utama Terletak Di Tengah Rumah
Sala satu desain yang jadi ciri khas rumah Joglo. Tata letak pintu utama ada dibagian tengah ruma dan sejajar dengan pintu belakang. Saat ada tamu berkunjung, maka akan langsung meliat ruangan belakan dari rumah ini.
Bukan anya sekedar tata letak sebuah pintu, tapi juga punya sebua filosofi. Hal tersebut menggambarkan bawa masyarakat Jawa memiliki sikap keterbukaan antara satu dan lainnya. Mereka dengan senang hati akan menerima tahu dan menyuruh tamunya menganggap sepeti rumah sendiri.
5. Teras Dengan Empat Tiang
Kala itu, belum ada barang-barang elektronik seperti televisi ataupun handphone yang sering mengalihkan waktu kebersamaan kita. Ada bagian rumah Joglo berupa teras dengan empat tiang berbentuk segiempat memanjang.
Teras ini dibangun sebagai tempat berkumpul dengan sanak saudara yang pastinya menjadi hiburan yang sangat mengasyikan. Bangunan ini juga memiliki makna bahwa saudara ataupun tetangga harus selalu membangun hubungan yang baik dan harmonis.
6. Tiang Utama “Soko Guru”
Umumnya di rumah Joglo, ada 16 buah tiang penyangga dengan fungsi yang berbeda. empat tiang penyangga utama disebut dengan Soko Guru. Fungsinya sebagai penopang blandar tumpangsari. Sedangkan tiang setelahnya disebut dengan soko rowo dan soko emper dibagian terluar.
Soko Guru menjadi simbol kekuatan dari 4 arah mata angina. Menurut keyakinan masyarakat Jawa, manusia berada di tengah perpotongan keempat ara mata angina tersebut yang disebut dengan Pancer atau Manunggaling Kiblat Papat.
Soko guru dan tumpangsari dianggap bagian paling penting. Karena dibagian tersebut terdapat banyak ornament-ornamen bermakna yang terlukis disana. Konon, semakin banyak ukiran cantik itu, maka status sosialnya orang tersebut juga semakin tinggi.
7. Terdapat Banyak Jendela Besar
Rumah Joglo memiliki jendela yang jumlahnya hingga puluhan. Desain ini merupakan warisan Belanda yang kemudian dikembangkan ole perancang Jawa. Tak hanya kecil, ada juga jendela besar yang membuat udara lebih banyak masuk. Tak heran jika suasana di dalam rumah jadi sejuk dan menenangkan.
1. Pondasi Kuat Dan Tahan Gempa
Pondasi atau bebatur rumah Joglo terbuat dari tanah yang tinggi dan dipadatkan yang disebut dengan isitilah dibrug. Sedangkan tiangnya dibangun di atas umpak dari batu alam dengan bentuk bulat, persegi empat dan delapan. Struktur bangunan ini juga dikenal tahan gempa.
Hal ini dikarenakan kerangka utama yang didominasi dengan kayu berupa umpak, soko guru, dan tumpangsari yang mampu menahan beban ketika terjadi getaran gempa. Sambungan saling mengunci pada kolom rumah yang bertumu pada sendi dan rol juga menjadi alasan efektif untuk menjaga bangunan tetap stabil.
Bagian-bagian Dalam Rumah Adat Joglo
Pendopo, terletak di depan rumah dengan konsep ruangan terbuka dan sebagai simbol keramahan untuk menyambut para tamu. Biasanya digunakan untuk pagelaran seni atau acara besar lainnya.
Pringgitan, terletak diantara pendopo dan omah njero [dalam] dan berfungsi sebagai penghubung dua ruangan tersebut. Umumnya, digunakan untuk menerima tamu. Untuk membatasi pendopo biasanya menggunakan seketsel dan gebyok untuk pembatas omah njero.
Emperan, terletak diantara pinggitan dan omah njero dan fungsinya sebagai penghubung antara kedua ruangan. Lebarnya hanya sekitar meter dan bisa dikatakan sebagai teras. Bisa digunakan untuk tempat bersantai atau menerima tamu, sehingga ada meja dan kursi.
Omah Njero, disebut juga dalem ageng atau omah mburi. Untuk tempat bersantai dan berkumpul bersama keluarga, sifatnya lebih privasi. Jadi, tak semua tamu bisa memasukinya.
Senthong, atau kamar yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. Terdiri dari senthong kiwo, senthong tengah dan senthong tengen. Senthong tengen dan kiwo berfungsi sebagai tempat tidur keluarga. Menurut kepercayaan Jawa, senthong tengah diyakini sebagai tempat sakral untuk menyimpan benda pusaka.
Gandok, letaknya di samping dan menempel pada bangunan bagian belakang. Dibagi menjadi 2 bagian, yaitu gandok kiwo dan ganduk tengen. Berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan perabotan ataupun bahan makanan. Juga sebagai ruang makan ataupun dapur.
Jenis Rumah Adat Joglo

1. Joglo Sinom
Rumah Joglo Sinom memiliki 36 tiang dan 4 diantaranya adalah soko guru. Atapnya memiliki 4 sisi dan masing-masing punya 3 tingkat dan satu bubungan. Bentuk tersebut berasal dari pengembangan rumah Joglo yang menggunakan teras keliling.
2. Joglo Pangrawit
Rumah Joglo Pangrawit menggunakan lambang gantung. Atapnya berbentuk kubah dan terletak di atas atap penangap.
3. Joglo Mangkurat
Rumah Joglo Mangkurat mirip seperti Joglo Pengrawit, namun lebih tinggi dan atapnya dihubungkan dengan atap penanggap menggunakan peniti. Atapnya terdiri dari 3 lantai ; lantai atas, pusat penerimaan tamu, dan teras.
4. Joglo Jompongan
Joglo Jomponggan memiliki 2 pintu geser dengan denah berbentuk kubus yang merupakan bentuk dasar omah Joglo.
5. Joglo Hageng
Rumah Joglo ini tampak lebih tinggi dengan tambahan atap yang lebih kecil, yaitu pengerat. Juga, diberi tambahan tratak disekeliling seperti halnya Pendapa Agung Istana Mangkunegaran Surakarta.
6. Joglo Semar Tinandhu
Biasanya digunakan untuk patung atau gerbang kerajaan. Namun, tiang utamanya diganti dengan dinding penghubung. Jadi, lantai bawah atap lebih luas dan atapnya lebih tinggi. Atapnya yang miring memberikan perbedaan udara antara bagian depan dan bagian dalam.
7. Joglo Lawakan
Bangunan Joglo ini memiliki 16 tiang dan 4 diantaranya merupakan soko gutu. Atapnya terdiri dari 4 sisi dengan 2 susun bangunan.
Bentuk bagunan yang unik serta memiliki banyak makna dan filosofi tersembunyi membuat rumah adat Joglo patut kita lestarikan. Itulah ulasan tentang ragam Joglo rumahh tradisional khas Jawa yang kaya makna. Semoga bisa menambah anda dalam pengetahuan sejarah anda.
Anyway, buat kamu yang penasaran dan ingin mengeksplor budaya Jawa lebih lanjut, yuk rencanakan perjalananmu bersama Eksotikaindonesia.com sebagai travel agent terbaik di Indonesia. Telah dipercaya oleh lebih dari 1000 klien dengan pelayanan CS yang cepat dan ramah akan siap membantu kamu. So, tunggu apalagi?.
Terimakasih untuk sobat yang telah membaca artikel kami dan sampai jumpa di artikel selanjutnya…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© eksotika indonesia