wisata malang
Paket Wisata Malang & Tour Bromo
 0853 199 66777
 0878 199 66777
 cs.eksotika@gmail.com
 eksotikaindonesia.com

Home Profil Paket Wisata Gallery Foto Client

UPACARA ADAT SAPARAN BEKAKAK

Yogyakarta biasa disingkat dengan panggilan Jogja merupakan kota wisata yang sarat akan budaya. Sebagai kota terbesar keempat dibagian selatan Pulau Jawa, Jogja memiliki beragam upacara adat yang menarik untuk digali lebih dalam. Salah satunya adalah upacara saparan bekakak.

Bulan Syafar atau Bulan Sapar

Bagi masyarakat Jawa, bulan Syafar atau bulan Sapar yakni bulan kedua dalam kalender Hijriyah (islam) telah umum diyakini sebagai bulan pelaksanaan berbagai tradisi ritual atau upacara adat.

Yogyakarta sebagai salah satu wilayah yang identik dengan tradisi dan budaya Jawa, tentunya memiliki masyarakat yang cukup aktif dalam menyemarakkan upacara adat sapar atau lebih dikenal dengan upacara saparan.

saparan bekakak

Ritual Tahunan Saparan Bekakak

Salah satu yang terkenal dan mampu menyedot animo masyarakat adalah tradisi saparan bekakak yang di selenggarakan di Desa Ambarketwang Gamping Sleman. Saparan Bekakak adalah sebuah tradisi ritual kuno yang sangat meriah yang tetap dipertahankan hingga saat ini. Ribuan orang tumpah ke jalanan hanya untuk melihat jalannya ritual upacara yang sudah melegenda ini.

Upacara bekakak saparan bekakak di Jogja tak hanya menarik hati masyarakat lokal yang secara rutin terlibat dalam ritual itu saja akan tetapi para penikmat budaya dan pemburu foto yang tertarik pada objek-objek kegiatan bernuansa kebudayaan juga turut menyumbangkan keriuhan upacara tersebut.

Sejarah Tradisi Upacara Saparan Bekakak

Untuk lebih jelasnya, berkut ini adalah beberapa fakta menarik seputar tradisi upacara adat Saparan Bekakak :

Adanya upacara saparan bekakak berawal dari kisah sebuah musibah yang menimpa Kyai dan Nyai Wirosuto. Keduanya merupakan sepasang suami istri sekaligus merupakan abdi dalem Pangeran Mangkubumi, Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sebagai raja baru, Sultan bermaksut ingin mendirikan sebuah istana sebagai tempat kediaman. Sembari menunggu pembangunan selesai, pesanggrahan Ambar Ketawang dipilih sebagai tempat tinggal untuk sementara waktu.

Kisah Abdi Setia Ambarketawang

Tercatat, sejumlah abdi dalem sang raja yang bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I yang mengabdi di Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dari sekian banyak abdi dalem ada dua orang abdi dalem yang paling setia, diketahui bernama Kyai dan Nyai Wirosuto. Keduanya adalah abdi dalem penongsong, yaitu abdi dalem yang sehari-harinya bertugas memayungi Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Bertugas membawa payung sang raja merupakan tugas mulia tersendiri bagi sepasang suami istri dari kalangan raykat biasa ini. Kemanapun sang raja pergi, keduanya turut serta membawa payung kebesaran kadatuan tau keraton.

Selain setia, Kyai dan Nyai Wirosuto merupakan para abdi dalem yang sangat rajin. Disela-sela menjalankan kewajiibannya, keduanya memelihara beragam hewan seperti, ayam, kelinci, bebek, landak, burung puyuh dan merpati. Mereka sangat menyanyangi hewan—hewan yang dirawatnya itu.

Setelah Keraton Yogyakarta telah selesai dibangun, raja yang mulai memegang tampuk kekuasaan pada 1755 ini memutuskan tinggal di istana barunya. Sedangkan Nyai dan Kyai Wirosuto memutuskan untuk tetap tinggl di pesanggrahan untuk merawat tempat peristirahatan raja mereka yang berjuluk Pesanggrahan Ambaretawang, sultan pun mengijinkannya.

Musibah di Ambarketawang Awal Mula Saparan Bekakak

Beberapa waktu berlalu, tepatnya pada Jumat Kliwon di bulan sapar, Gunung Gamping yang berada di dekat dengan Pesanggrahan Ambarketawang tiba-tiba runtuh. Banyak warga yang menjadi korban termasuk dengan Nyai dan Kyai Wirosuto. Sang Raja memerintahkan untuk mendcari jasad kedua abdi setianya ini akan tetapi tidak diketemukan hingga hari ini.

Entah kenapa, semenjak kejadian tersebut Pesanggrahan Ambarketawang sering mengalami musibah di bulan Sapar. Akibatnya, banyak yang menjadi korban dari musibah-musibah yang terjadi. Mendengar Keresahan warganya akhirnya Sultan pun melakukan pertapaan di Gunung Gamping. Kemudian beliau mendapatkan wisik atau bisikan dari Setan Bekasakan yang merupakan penunggu Gunung Gamping.

Sang penunggu Gunung Gamping meminta kepada Sultan untuk mengorbankan sepasang pengantin setiap tahunnya sebagai ganti atas batu kapur yang selalu digali oleh masyarakat sekitar. Merasa tidak perlu membuang waktu lebih lama lagi, kemudian sultan memerintahkan membuat sesaji yang diminta oleh penunggu Gunung Gamping tersebut. Sesaji berupa sepasang pengantin yang diminta oleh si penunggu Gunung Gamping dipersiapkan.

Kebijakan Sang Sultan 

Sultan menunjukaan kecerdasan serta kebijakannya dalam mengayomi da melindungi seluruh rakyatnya. Beliau tidak begitu saja memenuhi permintaan si demit penunggu Gunung itu. Sebagai persembahan pada penunggu gunung Gamping tersebut sang Sultan memerintahkan untuk mengganti sepasang pengantin dengan boneka berwujud pengantin.

Dibuatlah dua buah boneka dari tepung ketan berisi sirup gula merah. Dengan wujud satu boneka laki-laki dan satu boneka perempuan didandani persis seperti kedua pengantin yang siap untuk menikah. Siapa sangka tipuan ini berhasil. Sejak saat itulah upacara saparan bekakak dirutinkan di Desa Ambarketawang Gamping Sleman. Kemudian masyarakat percaya bahwa upacara ini akan menghindarkan dari musibah dan gangguan dari roh jahat. Walau sebenarnya segala hal musibah itu telah ditakdirkan oleh Sang Maha Kuasa.

Prosesi Ritual Upacara Saparan Bekakak

Pelaksanaan upacara sendiri terbagi dalam beberapa tahap. Mulai dari midodareni pengantin bekakak, kirab, hingga penyembelihan pengantin bekakak dan sugengan ageng.

Dalam upacara ini boneka pengantin dihias pengantin dengan gaya Solo dan Yogyakarta. Kedua pasangan boneka pengantin tersebut dibuat dua hari sebelum acara upacara saparan bekakak berlangsung. Proses pembuatan boneka pengantin ini pun tidak dilakukan secara sembarangan. Iringan gejog lesung yang mendendangkan tembang pernikahan ikut meramaikan proses upacara adat ini.

Setelah seluruh atribut lengkap dan siap, upacara adat pun dilaksanakan. Prosesi diawali dengan pengambilan air suci Tirto Donojati. Dilanjutkan dengan membawa semu komponen upacara menuju balai pertemuan sebagai syarat dimulainya midodareni pengantin bekakak.

Tirakatan dan pertunjukan wayang selama semalaman khusus digelar untuk maramaikan upacara ini. Ritual rutin milik kerajaan ini awalnya merupakan upacara ritual sakral yang terkesan mencekam, saat ini menjadi atrakti budaya sekaligus perayaan pesta rakyat serta menjelma menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Ambarketawan Gamping dan sekitarnya.

Pesta Rakyat Bulan Sapar

Rangkaian kegiatan adat Saparan Bekakak dihiasi dengan gelaran potensi seni dan budaya setempat seperti wayang kulit, jathilan, tari-tarian, electone hingga pasar malam, dan pameran UMKM.

Ada satu gelaran seni tradisional yang ditampilkan sebelum acara kirab disempurnakan dengan penyembelihan dua boneka pengantin, yaitu pagelaran seni fragment. Beberapa pemain membawakan fragmen bertema “Prasetyaning Sang Abdi” yang menceritakan kisah tentang Ki Wirosuto dan Nyi Wirosuto. Fragmen ini menceritakan perjuangan Ki Wirosuto dan keluarganya dalam mengusir roh jahat sang penunggu Gunung Gamping hingga tewas dan terkubur dalam reruntuhan batu Gamping.

Diikuti oleh seluruh bergodo yang mengiringi, beserta arak-arakan berupa ogoh-ohog, Wewe Gombel dan Raksasa Genderuwo sebagai simbol simbol kejahatan di muka bumi dikirabkan menuju Gunung Gamping.

Sesampainya dilokasi, pengantin bekakak selanjutnya dibawa menuju altar penyembelihan untuk disembelih oleh utusan dari Keraton Yogyakarta. Sebagai penutup ritual, pihak Keraton lantas membagikan isi gunungan dan potongan tubuh bekakak pada seluruh warga yang hadir.

Itulah ulasan tentang upacara adat saparan bekakak di Ambarketawang, tertarik datang kesana?

Siapkan liburanmu dengan matang bersama Eksotika Indonesia Tour

Salam hangat dari kami sampai jumpaa……

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© eksotika indonesia