Siapa yang tidak kenal Tangkuban Perahu? Gunung yang berlokasi di bagian utara Bandung ini tak hanya dikenal akan legendanya, tetapi keindahan yang sukses mengundang banyak wisatawan untuk berkunjung.

Sejarah dan legenda Tangkuban Perahu

Disebut pula dengan Tangkuban Parahu, gunung yang memiliki ketinggian 2.084 mdpl ini memiliki latar belakang yang unik. Asal usul sejarah Tangkuban Perahu dipercaya bermula dari letusan gunung purba bernama Gunung Sunda. Dari letusan tersebut, Tangkuban Perahu menjadi salah satu yang tersisa bersama Gunung Burangrang dan Gunung Bukit Tunggul.

Sementara legenda Tangkuban Parahu mungkin lebih banyak dikenal masyarakat Indonesia. Konon, gunung tersebut merupakan perahu yang ditendang Sangkuriang karena gagal memenuhi permintaan Dayang Sumbi/Rarasati—perempuan yang ingin dia persunting. Tanpa Sangkuriang ketahui, Dayang Sumbi sebenarnya adalah ibu kandungnya yang dianugerahi kecantikan dan berkah awet muda.

Karena tidak ingin menikahi putranya sendiri, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang membuatkannya perahu dalam waktu semalam. Ketika dia tahu Sangkuriang nyaris menyelesaikannya, Dayang Sumbi lantas mengibarkan selendang putih di kandang ayam, sehingga ayam pun berkokok karena mengira matahari sudah terbit. Kecewa dan marah, Sangkuriang pun membuang perahu tersebut. Jika Anda lihat secara saksama, wisata Tangkuban Perahu memang menyerupai perahu yang terbalik (tangkub dalam bahasa Sunda berarti tangkup/terbalik).

Apa saja yang ada di obyek wisata Tangkuban Perahu?

Gunung Tangkuban Parahu berlokasi di Jalan Raya Tangkubanparahu. Untuk mencapai lokasi, Anda dapat memilih satu dari tiga rute menuju Tangkuban Perahu yang tersedia. Jika Anda pergi dari Jakarta, maka Anda bisa mengambil Jalur Pasteur menggunakan Tol Cikampek-Purbaleunyi dan keluar di Pasteur. Lalu, ambil jalur ke Jalan Setiabudhi menuju Lembang. Kemudian, jalur kedua menggunakan jalan keluar tol di Sadang yang mengarah ke Ciater. Ketiga, Anda bisa keluar tol di Baros kalau ingin lewat Cimahi, lalu ambil jalur ke Citeureup menuju Jalan Kolonel Masturi yang mengarah ke Lembang.

Kemudian, apa saja objek wisata yang dapat Anda kunjungi di Tangkuban Perahu? Selain memantau keindahan gunung dan kawah-kawahnya, Anda pun dapat mengamati hutan yang berada di sekitar objek wisata ini. Pepohonan yang berada di kawasan tersebut masih sangat terjaga mengingat Tangkuban Parahu merupakan kawasan lindung. Kemudian, berada di tempat yang cukup tinggi memubuat suhu di gunung ini relatif sejuk hingga dingin. Di siang hari, temperaturnya bisa mencapai 17oC, sedangkan pada malam hari turun hingga 2oC.

Suhu yang cukup ekstrem untuk wilayah tropis mengharuskan wisatawan menggunakan pakaian tebal atau hangat. Jika Anda tidak mau terus kedinginan, di sekitar Tangkuban Perahu Bandung ada kedai atau warung yang menyediakan minuman seperti teh dan kopi dengan ragam makanan seperti gorengan sampai mi rebus. Makanan dan minuman tersebut dibanderol dengan harga terjangkau.

Daya tarik wisata Tangkuban Perahu

Seperti sebagian besar destinasi wisata di Indonesia, ada harga tiket masuk yang harus Anda bayar bila ingin mengamati langsung daya tarik Tangkuban Parahu. Harga tiket masuk Tangkuban Perahu untuk wisatawan lokal dikenakan tarik Rp15.000 per orang, sementara wisatawan asing harus membayar tiket seharga Rp50.000 per orang. Jam operasional kunjungan gunung ini dimulai pukul 8 pagi sampai 5 sore dan buka setiap hari.

Dengan tiket yang cukup murah, Anda bisa mengamati tiga kawah yang masih aktif di Tangkuban Parahu. Pengalaman ini juga dapat Anda peroleh kalau mengikuti paket wisata Tangkuan Perahu. Ketiga kawah yang terbentuk dari letusan gunung tersebut mempunyai nama masing-masing:

  1. Kawah Ratu. Sebagai kawah terbesar, Kawah Ratu dapat terlihat jelas kalau Anda berada di posisi yang lebih tinggi. Warna putih dari tanah di sekitar Kawah Ratu berasal dari kandungan belerang cukup tinggi;
  2. Kawah Upas. Kawah ini terletak tepat di samping Kawah Ratu dan mempunyai ukuran yang lebih kecil dengan kedalaman dangkal;
  3. Kawah Domas. Tidak lengkap rasanya kalau Anda berkunjung ke Tangkuban Perahu tanpa merebus telur di Kawah Domas. Jangan lewatkan kesempatan berharga ini!