Masalah baru bermunculan di tengah merebaknya virus mendunia yang bermula dari Wuhan China. Tak terkecuali bagi pasa pelaku bisnis kuliner di penjuru dunia. Hampir di setiap negara yang terpapar corona virus disease 19 melontarkan himbauan keras bagi warganya untuk tetap tinggal di rumah. Seolah semua tempat umum adalah tempat bersarangnya virus dan wajib dihindari oleh siapapun. Tidak hanya restaurant dan café yang menjadi sasaran petugas untuk dibersihkan dari manusia, bahkan sekolah, rumah ibadah, pertokoan, kantor, taman, destinasi wisata, dan tempat umum lainnya juga menjadi target.
Tak terkecuali Rumah makan dan café di Austraslia yang setiap harinya melayani pembeli selama beberapa jam harus meniadakan layanan makan d tempat. Maka penurunan omzet adalah hal yang tidak bisa dielakkan. Akan tetapi bagaimanapun pelaku bisnis kuliner harus mampu bertahan hidup di tengah pandemic. Karena kebutuhan pokok manusia salah satunya adalah konsumsi asupan makanan.
Pelaku bisnis kuliner di Australia
Beberapa pengusaha bisang kuliner khas Indonesia yang berkembang di Australia terbiasa dengan pelanggan dine-in. Sekurangnya 80% penjaja makanan nusantara akan duduk santai menikmati hidangan bersama rekan bisnis, teman kantor, atau keluarganya di café atau restoran mereka. Sisanya adalah pelanggan takeaway sebanyak 20%, mereka membeli makanan lalu di bawa pulang.
Pembatasan social dan pembatasan fisik di Australia juga mempengaruhi distrbusi bahan makanan. Terjadi panic buying oleh sebagian orang mampu pada bahan makanan pokok. Hal ini menyebabkan suplai bahan makanan yang umumnya mudah di dapat menjadi sulit. Pasar dan took memerlukan waktu untuk melakukan pengisian stok kembali, sehingga banyak pelaku usaha makanan kesulitan mendapatkan bahan makanan tertentu untuk mereka olah. (lebih…)