Berbicara tentang keunikan dari keberagaman di Indonesia memang tak akan penah usai. Setelah menelisik tentang suku-suku bangsa, kita akan beralih ke suatu hal yang mungkin tak penah absen dari keseharian kita. Apalagi kalau bukan musik? Paduan melodi yang selalu jadi favorit semua masyarakat dunia. Ada lho komunitas bahkan universita yang selalu belajar Gamelan di luar negeri?
Nah, sebagai warga peribumi ini kamu pasti sudah tak asing sama yang namanya gamelan, dong. Gamelan sendiri merupakan seperangkat alat musik tradisional di Indonesia yang sudah mendunia. Biasanya terdiri dari gong, gambang, kenong, saron, dan alat musik pendamping lainnya. Meskipun tampak klasik dan tradisional, tapi siapa sangka jika gamelan jadi salah satu bagian pelajaran musik di sekolah luar negeri.
New Zealand
New Zealand School of Music [NZSM] salah satunya. Mereka menjadikan gamelan sebagai kurikulum yang bernama ‘Special Gamelan Indonesia’. Berawal dari kesepakatan antara Kedutaan Besar Republik Indonesia dengan NZSM pada tahun 1795. Menariknya, mahasiswa disana harus bisa memainkan 3 gending gamelan dengan teknik yang sempurna. Selain itu, mereka juga harus mempelajari sejarah dan perkembangan gamelan dari waktu ke waktu.
Keistimewaan musik gamelan terletak pada alunan nada yang cendeung merdu dan lembut. Efeknya, seolah menimbulkan suasana damai yang menenangkan jiwa siapapun yang mendengarnya. Selaras dengan prinsip hidup masyarakat Jawa pada umumnya. Mereka selal menjaga keselarasan hidup baik secara jasmani maupun rohani.
Sejarah Alat Musik Gamelan
Secara etimologi, gamelan berasal dari istilah Bahasa Jawa yaitu “gamel” yang berarti menabuh atau memukul dan akhiran “an” yang menjadikannya kata benda. Jadi, gamelan artinya menabuh atau memukul benda-benda. Komponen utama gamelan yaitu; bambu, logam, dan kayu. Masing-masing memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan.
Tiga arkeolog yang tinggal Prambanan Jogja mengungkapkan fakta yang jelas mengenai adanya gamelan di tanah Jawa. Mereka adalah Agus Purwo Murdoko, Panggiyo, dan KRA Haryono Hadiningrat. Terdapat bukti fisik di relief-relief Candi Borobudur dan candi-candi Jawa lainnya.
Dibeberapa bagian dinding Candi Borobudur tampak jenis-jenis instrumen gamelan. Mulai dari kendang bertali yang dikalungan, kendang berbentuk seperti perluk, Simbal, Suling, Siter, Kecapi, Saron dan Gambang.
Sedangkan di Candi Prambanan tampak gambar relief Kendang Cembung, Kendang Silindris, Kendang Periuk, Suling dan Simbal. Relief tersebut menggambarkan bahwa gamelan digunakan sebagai penggiring tari, upacara kerajaan atau keagamaan. Hal tersebut membuktikan bahwa gamelan memang sudah ada sejak dahulu kala.
Belajar Gamelan Di Negeri Belanda
Alunan merdu nan magis dari nada gamelan ternyata membuat banyak hati jatuh cinta dan penasaran. Tak disangka, jika negeri kincir angina ini memiliki kelompok kesenian gamelan yan diberi nama ‘Het Gamelanhuis’ yang berarti Rumah Gamelan. Berada di sebuah apartemen yang tak terlalu mencolok dibagian timur kota Amsterdam.
Tepatnya di Jalan Veemkade, berada di sampan kanal dan ada Java-eiland [Pulau Jawa] diseberangnya. Java eiland sendiri merupakan pulau kecil di Belanda yang kebetulan bernama seperti Pulau Jawa, dimana alat musik gamelan berasal.
Get Gamelanhuis
Get Gamelanhuis didirikan pada tahun 2001 oleh pemerintah kota Amsterdam. Berawal dari warga sekitar yang tertarik untuk belajar gamelan. Mereka belajar gamelan di sebuah kelas yang diselenggarakan oleh Yayasan Bangsa Jawa dari komunitas orang Jawa Suriname di Amsterdam. Tak hanya belajar tentang gamelan Jawa, Get Gamelanhius juga mempelajari tentang gamelan Bali yang merupakan orkes Indonesia modern. Namun, dilaksanakan pada hari yang berbeda.
Setiap Selasa malam, ada dua grub gamelan Jawa yang berlatih disana, yaitu Mugi Rahayu dan Wiludeng. Dua grub tersebut dilatih oleh seorang lelaki Belanda bernama Marteen Van den Berg yang kini berusia 777. Beliau telah bermain gamelan selama lebih dari 25 tahu. Suaranya terdengar merdu tatkala meniukan bunyi kendang sembari memberikan bimbingan kepada para muridnya sebelum mulai menabuh gending. Dalam grub ini, Marteen merupakan sosok pemain gendang yang paling ahli. Saat tangannya mulai menabuh kendang, suara yang rancak dan jernih akan membuat siapapun terkesima.
Peranan Kendang
Kendang memiliki peranan penting dalam music gamelan. Fungsinya sebagai pemandu irama atau pemberi aba-aba bagi semua instrumen pendampingnya. Mulai dari boning, gender, suling, siter, gambang, hingga gong. Juga seorang penyanyi atau sinden yang harus mendengarkan irama dengan seksama. Bahkan saat mengiringi sebuah seni tari, penari juga harus detail mengikuti setiap dentuman nada gamelan yang dimainkan. Kesimpulannya, permainan gamelan yang bagus menjadi kunci utama pertunjukkan yang sukses.
Semuanya berawal kala sang guru meninggal dunia dan grub gamelan tersebut juga nyaris mati karena tidak ada pemain gendang. Akhirnya, Marteen belajar gendang dengan berguru langsung di Jawa, tepatnya di Solo. Ternyata, semua teknik yang dia pelajari sebelumnya keliru. Marteen harus belajar lagi mulai dari 0.
Satu bulan berlalu, dia kembali ke Belanda dan mempraktikan ilmu baru tersebut. Ternyata permainan grubnya masih jauh tertinggal. Setelah itu, Marteen kembali lagi ke Solo. Perlahan, dia benar-benar mulai menguasai teknik bermain gendang dengan baik. Irama gamelan juga tergantung pada jenis gending dan fungsinya. Semua ia pelajari secara detail. Baginya, music gamelan adala sebuah dunia yang begitu komleks dan adiluhung.
Michiel Niemantsyerdriet
Beralih dari Marteen, berlanjut ke sosok Michiel Niemantsyerdriet, orang Belanda yang juga mempelajari gamelan selama lebih dari 15 tahun. Dia pernah tinggal di Yogyakarta dan Solo selama 1 tahun. Baginya, gamelan merupakan tentang kebersamaan, setiap anggota simfoni adalah elemen penting dari simfoni yang indah. Dia juga dibuat takjub dengan makna gotong royong di Indonesia, pasalnya hal tersebut kontrass dengan Eropa yang individualis. Kini, dia berprofesi sebagai guru gamelan untuk murid-murid Sekola Dasar di Belanda.
Kini, belajar gamelan menjadi jauh lebih baik setelah ditemukannya notasi angka oleh patih Wreksodiningrat dari Keraton Solo. Sebelumnya, orang belajar gamelan harus mengandlkan pendengaran dan rasa yang tajam. Setelah adanya notasi angka, mereka hanya perlu mengikuti pedoman nada yang tertulis. Uniknya, jika seseorang sudah sangat ahli atau saking cintanya dengan gamela, notasi angka mungkin tidak terlalu dibutuhkan lagi. Mereka akan dengan mudah mengikuti nada yang berbunyi dengan panduan rasa.
Berali dari musik, kita akan berbicra tentang lagu yang menggiringi dentuman suara gamelan. Selain orang Belanda di Get Gamelanhuis, ada juga Djumlah Somopawiro – satu-satunya orang Jawa disana – dia adalah seorang sinden [penyanyi]. Dulu, Marteen menugaskan Djumilah untuk menjadi pemain kendang perempuan, namun ternyata belum kuat permainannya. Akhirnya, dia menjadi sinden. Dia harus benar-benar belajar memahami sinkronasi suaranya dan iringan musik.
Menurutnya, kebanyakan orang Eropa saat belajar gamelan justru terpaku pada notasi angka. Berbeda dengan orang Jawa yang lebih memakai rasa. Tembang-tembang yang dinyanyikan pun memiliki makna yang mengajarkan kita tentang nilai-nilai positif. Tembang Serundeng Gosong misalnya. Djumilah membawakan lagu ini dengan nada tinggi dan mendayu-dayu.
Sang pencipta tembang itu mengajarkan bagaiaman pentingnya rasa dan peratian dalam mengerjakan segala sesuatu. Layaknya serundeng yang rapu saat digoreng. Silap sedikit maka serundeng akan gosong. Sayangnya, selain Djumila taka da anggota lain yang benarbenar mengerti tentang arti dari tembang tersebut. kebanyakan dari mereka yang lebih terpaku ada deretan notasi angka.
Nah, siapa sih yang nggak bangga jadi orang Indonesia?. Bahkan, musik tradisional gamelan Indonesia sampai menjadi mata kuliah di luar negeri. So, buat generasi tanah air harus terus melestarikan gamelan dan cintai budaya kita. Salam Indonesia keren!
Terimakasih dan sampai jumpa di artikel selanjutnya…
cek juga ragam budaya di Indonesia